Peniup Seruling dari Hamelin
Peniup Seruling dari Hamelin (bahasa Jerman: Rattenfänger von Hameln) adalah tokoh dalam sebuah legenda tentang menghilangnya anak-anak dari kota Hamelin (Hameln), Niedersachsen, Jerman, pada Abad Pertengahan.
Kisah terawal mendeskripsikan tentang seorang peniup seruling, dengan
pakaian berwarna-warni, memikat anak-anak untuk meninggalkan kota dan
tidak pernah kembali lagi. Pada abad ke-16, penuturan tersebut dikembangkan menjadi suatu kisah utuh, tentang peniup seruling yang datang ke kota untuk memberantas hama
tikus dengan cara meniup seruling ajaibnya. Setelah pemerintah kota
menolak untuk memberikan imbalan, si peniup seruling memanfaatkan
kekuatan sihirnya untuk memikat anak-anak, membuat mereka meninggalkan
kota sebagaimana yang telah dilakukannya pada hama tikus
Hamelin adalah sebuah kota yang makmur, penduduknya merasa puas dan
bangga tinggal di sana. Kemudian datanglah tikus-tikus. Di setiap kota
selalu ada tikus yang kadang-kadang sangat mengganggu, tetapi biasanya
mereka masih bisa terkontrol. Tidak demikian halnya dengan Hamelin,
tikus yang datang ke sana berjumlah ribuan. Belum pernah orang menjumpai
tikus yang datang sebanyak itu di satu tempat. Mereka bergerombol di
seluruh kota, meencuri makanan, menggerip bangunan-bangunan, menyebarkan
kuman-kuman penyakit. Para penangkap tikus bekerja siang malam untuk
membebaskan kota dari tikus-tikus, tetapi rasanya makin banyak tikus
yang mereka bunuh, makin banyak tikus muncul untuk menggantikan yang
mati itu.
Penduduk kota merasa sangat celaka. Makin lama keadaan makin
memburuk. Tikus-tikus itu mencuri makanan dari lemari-lemari makan dan
gudang-gudang makanan. Kemana pun mereka pergi ditinggalkannya kotoran
dan kerusakan. Makanan menjadi langka dan orang-orang pun mulai khawatir
akan terjadi bencana kelaparan. Anak-anak dan orang tua menjadi sakit
karena makan makanan yang telah dicemari oleh tikus-tikus.
Dalam keputus-asaan, walikota mengadakan pertemuan untuk mencari
jalan melenyapkan wabah tikus itu. Semua orang berkumpul di lapangan.
Setiap kali sebuah ide dilontarkan, ada orang lain yang mengatakan bahwa
cara itu telah dicoba tanpa hasil.
Ketika itu tampillah seorang asing di depan kerumunan orang banyak
itu. Pakaian orang itu sangat aneh dan berwarna-warni, di kepalanya ia
memakai topi besar yang ada bulu burung meraknya. Kelihatannya dia lebih
cocok menjadi pemain sirkus. Semua penduduk Hamelin memperhatikannya
ketika ia mulai berbicara dengan suara yang aneh, seakan-akan sedang
menyanyi.
”Aku dapat menolong kalian mengusir tikus-tikus dari kota ini, tapi jangan salah, biayanya mahal sekali,” katanya.
”Dalam perbendaharaan kota ini ada sepuluh ribu keping emas,” kata
walikota. ”Jika engkau dapat mengenyahkan wabah tikus dari kota ini,
seluruh emas itu akan menjadi milikmu. Tapi sebelumnya, tuan yang baik,
bagaimana caranya engkau akan membuat keajaiban ini?”
Orang asing itu tersenyum penuh rahasia.
“Semua yang kuperlukan ada di sini, terjahit diikat pinggangku,”
katanya sambil menunjuk kesebuah suling bambu dipinggangnya. ”Jika
kalian ingin aku mengusir tikus-tikus ini, kalian harus percaya padaku.”
Walikota tidak terlalu yakin bahwa orang asing itu dapat berbuat
seperti yang dikatakannya, tapi tak ada salahnya jika dicoba, maka
diapun setuju. Kemudian peniup suling itu berpaling kepada kerumunan
orang banyak.
“Sekarang pulanglah ke rumah kalian, dan tunggulah sampai tugasku selesai,” katanya.
Setiap orang meninggalkan lapangan dan pulang kerumah, sambil
bertanya-tanya apa gerangan yang akan dikerjakan oleh orang asing yang
berpakaian warna warni itu. Setelah semua orang pergi, orang asing itu
mengambil sulingnya dan mulai meniupnya. Irama ajaib yang dimainkannya
merembes ke seluruh kota. Dan seperti suatu keajaiban, orang melihat
tikus-tikus keluar dari rumah-rumah mereka lalu berkumpul membuat arak-arakan.dari
jendela-jendela mereka dapat melihat beribu-ribu ekor tikus
terburu-buru berkumpul di lapangan di mana peniup suling itu sedang
meniup sulingnya. Ketika tikus pertama sampai didekatnya, si peniup
suling mulai menari lalu turun ke jalan ke luar kota diikuti oleh
tikus-tikus itu. Arak-arakan tikus itu makin lama makin besar, jumlahnya
benar-benar menakjubkan. Kelihatannya setiap tikus mengikuti irama
musik yang dimainkan oleh peniup suling.
Semua orang memperhatikan dengan tercengang sampai si peniup suling
hilang dari pandangan. Beberapa orang yang tak dapat menahan rasa ingin
tahunya keluar dari rumah mereka dan mengikuti arak-arakan yang
menakjubkan itu. Dengan tidak menoleh-noleh si peniup suling terus
menari sampai di sebuah jembatan yang membentang di atas sungai di
pinggir kota. Setibanya di jembatan ia berhenti menari tapi tetap meniup
sulingnya. Orang-orang yang mengikutinya melihat tikus-tikus itu lari
ke tepi sungai yang deras airnya. Satu persatu tikus-tikus itu terjun ke
dalam sungai lalu menghilang dari pandangan dihanyutkan oleh arus
sungai itu. Satu demi satu beribu-ribu ekor tikus itu loncat ke sungai
dan menghilang, tak seekor pun yang tertinggal.
Penduduk kota hampir tidak percaya akan apa yang terjadi. Ketika
mereka pulang ke rumah atau pergi ke toko, kemana pun mereka mencari,
tikus-tikus itu tidak ditemukan lagi. Mereka pun melakukan pertemuan
lagi di tanah lapang. Si peniup suling harus diberi hadiah.
Tetapi penduduk kota tidak tahu bahwa walikota telah berdusta
ketika ia menjanjikan sepuluh ribu keping emas kepada peniup suling.
Walikota itu seorang yang bodoh dan serakah, ia telah memakai uang kota
Hamelin untuk keperluannya sendiri. Perbendaharaan kota sudah hampir
kosong. Ketika peniup suling datang untuk mengambil upahnya, walikota
hanya memberinya beberapa keping emas untuk pengganti jerih payahnya. Si
peniup suling sangat marah. Meskipun walikota yang berbuat curang, ia
menyalahkan seluruh penduduk kota.
”Kalian semua telah menipu dan menghinaku!”teriaknya dengan
marah.”Tapi kukatakan kepadamu; tak seorang pun dapat berbuat begitu
kepada Peniup Suling tanpa menerima balasannya! Kalian semua akan
dihukum!”
Begitu selesai berbicara, Peniup Suling berpaling dan mengambil
sulingnya lagi. Diletakkannya suling itu di bibirnya lalu ditiupnya
kembali tetapi kali ini iramanya berbeda. Musik mengalun ke seluruh
penjuru kota dan membuat kaki-kaki setiap anak di Hamelin mulai menari.
Dengan sangat ketakutan orang-orang dewasa memperhatikan anak-anak itu
membentuk arak-arakan, seperti yang dilakukan oleh tikus-tikus, lalu
mulai mengikuti si Peniup Suling.
Para ayah dan ibu memanggil-manggil anak mereka dan menyuruh
berhenti, tapi anak-anak itu tidak mendengar. Mereka berdansa makin
cepat dan makin cepat mengikuti Peniup Suling. Penduduk kota tak dapat
berbuat sesuatu apa pun untuk menghentikan mereka. Peniup Suling terus
menari dan anak-anak mengikuti dibelakangnya dengan gembira. Musik itu
mempunyai kekuatan ajaib, yang hanya dapat didengar oleh mereka, yang
membuat mereka ingin pergi.

Seperti sebelumnya, Peniup Suling memimpin arak-arakan itu ke jalan
yang menuju ke luar kota. Dengan sangat ketakutan penduduk kota
melihat dia sampai ke jembatan di atas sungai, tapi anak-anak tidak
terjun ke sungai seperti tikus-tikus. Mereka mengikuti Peniup Suling
menyeberangi jembatan lalu pergi jauh.
Pada bagian akhir arak-arakan, tertinggal dari yang lainnya karena
tak dpat berjalan cepat, adalah seorang anak laki-laki yang kakinya
lemah. Baginya, berjalan sangat sulit dan melelahkan. Ia juga senang
mengikuti irama musik yang ajaib itu dan meskipun sukar untuknya
berjalan secepat yang lain, ia berusaha keras untuk mengikuti. Sesuatu
mengatakan kepadanya bahwa anak-anak itu akan dibawa ke tempat yang
lebih menyenangkan dari yang dapat mereka bayangkan.
Penduduk kota pun berhenti. Mereka tahu bahwa Peniup Suling telah
mengambil anak-anak mereka untuk selamanya dan tak mungkin untuk membawa
mereka kembali. Dengan sangat sedih mereka pun pulang ke rumah.
Sejak saat itu kota Hamelin terbenam dalam duka cita yang dalam.
Sebuah kota tanpa anak-anak adalah tempat yang sangat menyedihkan. Para
orang tua yang kehilangan anaknya sangat sedih demikian juga orang-orang
lainnya yang mengenal dan menyayangi anak-anak itu. Walikota, yang
menyadari bahwa semua itu disebabkan olah kejahatannya, merasa sangat
malu lalu pergi meninggalkan kota.
Tidak ada penduduk kota yang tahu kemana anak-anak itu pergi, apakah mereka masih hidup atau sudah mati.
Beberapa minggu pun berlalu. Kemudian pada suatu hari anak
laki-laki yang kakinya lemah itu berjalan terpincang-pincang kembali ke
Hamelin dalam keadaan letih dan putus asa, dan ia menceritakan sebuah
kisah yang sangat aneh. Dengan alunan musiknya, si Peniup Suling telah
membawa anak-anak itu bermil-mil jauhnya melintasi bukit-bukit. Anak
laki-laki itu berusaha mengikuti terus, tapi lama kelamaan ia jatuh dan
tertinggal. Peniup Suling itu membawa anak-anak itu ke lereng sebuah
gunung yang curam. Lereng gunung itu terbuka dan dari jauh terlihat
sebuah tempat yang sangat indah di dalamnya. Satu persatu anak-anak itu
berjalan melintasi gunung, tapi ketika anak laki-laki itu sampai lereng
itu telah tertutup. Ia tertinggal sendirian di gunung, dan merasa sedih
karena tidak dapat ikut dengan teman-temannya.
Kota Hamelin telah membayar sangat mahal untuk mengusir tikus-tikus
itu. Selama bertahun-tahun kota terasa lengang dan mengerikan tanpa suara
anak-anak yang sedang bermain.
Tidak ada komentar